Jappa-Jappa ri Mangkasara’

 

“Anging mammiri kupasang.. Pitujui tontonganna.. Tusarroa takkaluppa..
Eauleee.. Namangngu’rangi.. Tutenayya, tutenayya pa’risi’na..
Battumi anging mammiri.. Anging ngerang dinging dinging.. Namalantang saribuku..
Eauleee.. Mangerang nakku.. Nalo’lorang, nalo’lorang je’ne matta..”

– Anging Mamiri, lagu daerah Sulawesi Selatan

 

Selamat datang di Sulawesi Selatan!

Senang sekali pada akhirnya saya boleh kembali menuliskan cerita perjalanan saya di halaman ini! Akhir pekan lalu, saya berkunjung ke Makassar, atau yang sejak tahun 50-an hingga tahun 2000 dikenal dengan nama Ujungpandang. Judul saya kali ini: Jappa-Jappa ri Mangkasara’, yang artinya “jalan-jalan ke Makassar”. Namun, perjalanan saya kali ini setelah mendarat di Provinsi Sulawesi Selatan tidak hanya selesai di kota Anging Mamiri ini saja, tetapi berlanjut juga dengan melihat kota Rantepao, kubur batu Londa dan desa Ke’te’ Kesu’ di Kabupaten Toraja Utara, melihat kubur batu Lemo di Kabupaten Tana Toraja dan juga menyusuri sungai Pute untuk melihat gugusan batuan karst Rammang-Rammang di Kabupaten Maros.

 

Sultan Hasanuddin International Airport (IATA: UPG)

Perjalanan saya kali ini diawali dan ditutup dengan terbang bersama Citilink Indonesia. Saya selalu terkesima setiap kali mendengar pantun jenaka yang dilantunkan pramugarinya saat tiba di bandar udara kota tujuan, dan hal ini merupakan salah satu hal yang mungkin semestinya diteruskan karena berpantun ria merupakan satu budaya Indonesia untuk berkomunikasi dan melempar keceriaan. Sementara itu, karena bulan Januari adalah bulan penghujan di Indonesia, kedua kota menumpahkan air hujan dari awan mendungnya sebelum saya berlepas meninggalkan kota metropolitan Jakarta dan setelah saya tiba di kota Makassar. Sesampainya di kota, saya langsung bergegas mencari makan dan menemui rumah makan yang menjual mie titi di Jalan Datu Museng No. 23A, Losari.

Mie Titi Jl. Datu Museng cabang Jl. Irian

Mie titi adalah salah satu masakan khas kota Makassar. Rupanya yakni mie yang kurus langsing, digoreng kering hingga renyah kemudian disiram dengan kuah yang memadukan sawi hijau, potongan dadu daging ayam dan bakso goreng (ada juga versi seafood-nya, daging ayamnya diganti dengan potongan udang, ikan dan cumi-cumi) dimasak dengan tambahan air dan tepung maizena sehingga kuahnya mengental. Saat disajikan di meja makan, karena saya suka pedas, saya menambahkan acar cabai rawit khas Makassar yang kecil-kecil mungil, namun mengecilkan rasa pedasnya. Rasa gurih dari kuah mie titi dengan pedasnya acar cabai rawit begitu menggoyang lidah dan selera makan saya. Assipa’na….! :9

Patung Sultan Hasanuddin di depan gerbang masuk benteng Rotterdam

Setelah makan mie titi yang renyah, berkuah kental dan lezat ini, saya melanjutkan perjalanan menuju Benteng Jumpandang, atau yang terkenal dengan nama Fort Rotterdam, berada di pesisir barat kota Makassar. Fort Rotterdam mendapatkan namanya dari kota Rotterdam, kota kelahiran Cornelis Janszoon Speelman, gubernur jenderal Hindia Belanda pada tahun 1681-1684, dan masa itu kota Makassar adalah pusat perekonomian dan kehidupan di wilayah timur Hindia Belanda. Menurut cerita orang lokal, benteng ini sebelumnya merupakan kepemilikan Kerajaan Gowa-Tallo sebagai benteng pertahanan. Setelah dipegang kendali oleh Belanda, benteng pertahanan tersebut juga berfungsi sebagai pusat penyimpanan rempah-rempah yang berasal dari kawasan Indonesia Timur. Benteng ini juga dikenal dengan sebutan Benteng Panyyua, karena berbentuk seperti penyu, yang melambangkan Kerajaan Gowa-Tallo yang menguasai dan berjaya di lautan dan daratan. Kini benteng tersebut dijaga dan dirawat sebagai warisan budaya Indonesia yang telah berdiri sejak abad ke-16.

 

Fort Rotterdam
Coto Makassar

Malam itu saya sempatkan dulu untuk menyicip coto. Sayang, perjalanan kuliner saya terpaksa saya tunda, karena saya harus bertolak ke Toraja. Perjalanan ke sana memakan waktu kurang lebih 8 jam menggunakan bus antarkota. Berangkat pukul 9 malam dari Terminal Regional Daya di dekat dan tiba di kantor perwakilan busnya di kota Rantepao sekitar pukul 5 pagi. Toraja menyimpan begitu banyak keindahan alam dan budaya. Sungguh, saya begitu senang bisa melihat rumah tongkonan yang megah itu.

 

Selamat pagi dari Ke’te’ Kesu’, Toraja Utara

 

Menikmati pemandangan alam di Tana Toraja

 

Rumah adat tradisional di Toraja: Rumah Tongkonan

 

 

 

Di samping itu, Toraja juga terkenal dengan kubur batunya, namun sayang sekali saya datang bukan di pertengahan tahun atau di awal bulan Desember, karena di waktu-waktu tersebutlah ada banyak sekali kegiatan dan upacara adat yang dilakukan hampir di seluruh wilayah Toraja, menurut cerita orang setempat.

 

Kubur Batu Lemo
Kubur Batu Londa

Berlepas dari Toraja, saya kembali ke Ujungpandang dan melanjutkan kembali wisata kuliner yang sungguh saya tidak sabar menantinya. Setibanya kembali di kota, satu per satu restoran saya sambangi, mulai dari hidangan laut yang lezat dan unik seperti ikan kudu-kudu di Rumah Makan Nelayan (Jl. Ali Malaka No. 25, Maloku), menyantap pallu basa di Palbas Serigala (Jl. Serigala No. 54, Mamajang), kemudian ‘ngemil jalangkotek yang sedap dan es pisang ijo nan segar di Rumah Makan Bravo (Jl. Andalas No. 154, Parang Layang) dan konro bakar di Sop Konro Karebosi (Jl. Gunung Lompobattang No. 41-43, Pisang Utara).

 

Ikan Kudu-Kudu, dagingnya disajikan digoreng tepung

 

Pallu basa, disajikan dengan kuning telur mentah sesaat sebelum diantar ke meja makan

 

Es Pisang Ijo dan Jalangkotek

 

 

Konro Bakar

Saran saya kalau ke Makassar buat wisata kuliner: siapkan obat penurun kolesterol yaa. Atau, banyak minum teh hijau setelah makan, agar menetralisasi kandungan lemak dan kolesterol, karena masakan-masakan di Makassar ini semuanya lezat dan super gurih! Satu hal juga: wisata kulinernya jangan kalap ya! 😀

Setelah menikmati kudapan dan masakan khas kota Ujungpandang, saya melanjutkan perjalanan ke Kabupaten Maros, di mana terdapat beberapa objek wisata di sana yang tidak banyak dikunjungi orang.

 

Menyusuri Sungai Pute di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan

Rutenya pun harus melewati gua karang!

 

Pemandangan alam yang menyegarkan di Rammang-Rammang

 

 

Desa Salenrang, Dusun Rammang-Rammang

Dusun Rammang-Rammang terletak di Desa Salenrang, Kecamatan Bentoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Wilayah ini merupakan bagian timur laut dari Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung dan terkenal akan gugusan batuan karst yang menjulang tinggi. Pemerintah Republik Indonesia telah mendaftarkan gugusan karst Maros-Pangkep kepada UNESCO agar dapat dimasukan sebagai nominasi Situs Warisan Dunia (World Heritage Site) karena kelestarian alamnya. Untuk mencapai Rammang-Rammang ini, moda transportasi yang dipergunakan yakni perahu. Cuaca sangat mendukung – kala itu cerah dan panas dengan sedikit hembusan angin – sehingga pemandangannya begitu fantastis dan menakjubkan. Sungguh karya Tuhan yang begitu indah, dan sudah sepatutnya kita menjaga kelestariannya.

Perjalanan saya di Sulawesi Selatan ditutup dengan perjalanan ke Taman Prasejarah dan Leang Pettakere, yang lokasinya tidak terlalu jauh dari karst Rammang-Rammang. Di Leang Pettakere, saya menemukan gua dengan peninggalan gambar dari zaman prasejarah yang diteliti dari ilmuwan Belanda dan Australia; menurut penelitian gambar tangan dan babi hutan yang tergambar di batunya sudah berumur setidaknya 40.000 tahun lamanya, menjadi salah satu yang tertua di dunia!

 

Leang-Leang Prehistoric Park

 

Masuk ke situs Leang Pettakere

 

Gugusan stalaktit di Leang Pettakere
Situs peninggalan sejak zaman prasejarah

Sayang sekali pada kesempatan saya kali lalu ini, saya belum bisa berkunjung ke Tanjung Bira ataupun ke Pulau Samalona dan Pulau Kodingarengkeke yang terkenal bersih dan air lautnya yang jernih. Saya tidak sabar untuk mendapatkan kesempatan berlibur selanjutnya.

 

 

 

 

See you in my next adventure!

Have a wonderful day folks! Greetings from the wonderful Indonesia! 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s